Sabtu, 06 Februari 2010

Bandung Expedition Ala Backpaker




















Akhirnya....
Ide yang telah direncanakan sekitar 4 bulan yang lalu (Oktober 2009) terlaksana...
Rencana ini berawal dari keinginan untuk melepasakan segala kepenatan kuliah (Studio n Kolokium). Berawal dari omongan iseng akhirnya menjurus kaearah yang serius untuk melakukan perjalanan ala backpaker...
"Bandung" langsung terpikir di benak kami sebagai kota tujuan berwisata ala backpaker, dengan perhitungan ala kadarnya maka kami memperkirakan perjalanan ini menghabiskan dana sekitar 300rb dengan asumsi 3 hari 2 malam. Hmmm... kira-kira perjalanan ini bisa terlaksana gak ya?? dengan modal yang pas-pasan... So... ikutin aja perjalanan kami...
Inilah kami yang melakukan perjalan ke bandung, pada awalnya ada kami akan berangkat berlima, tapi dua dari kami akhirnya memutuskan untuk tidak ikut (Ilham n Abdus)
Jadi, kami akhirnya berangkat bertiga... Tito, Nanda, n Topik
Rabu, 27 Januari 2010
Hari inilah perjalanan kami dimulai, kami memilih moda transportasi Kereta Ekonomi Kahuripan yang berangkat dari Stasiun Kediri-Padalarang..
Karena, aku n Nanda berangkat dari Malang, kami terpaksa harus menuju Kediri dengan kereta Panataran yang berangkat pukul 07.20 WIB..
Aku berangkat dari rumah (Arjosari) dengan naik angkot jurusan Stasiun Kota Baru Malang, ongkosnya Rp 2.500
Setelah sampai di Stasiun Kota Baru Malang aku n Nanda beli tiket KA Panataran seharga Rp 5.500
Kereta Ekonomi memang moda transportasi paling merakyat, jadi bisa dibayangkan betapa penuh dan sesak di dalam kereta sehingga kami terpaksa berdiri di sambungan kereta sampai stasiun Blitar... sungguh melelahkan..
Akhirnya pukul 11.00 WIB kami sampai di stasiun Kediri
Sampai di stasiun Kediri kami langsung cari sarapan di sekitar Jalan Doho. Pilihan kami jatuh pada pecel kediri yang berada di dalam gang, hanya dengan Rp 4.500 kita dapat seporsi pecel dengan es teh manis... Lumayan...















Setelah sarapan, kami kembali ke stasiun setelah menerima sms kalo si Topik udah tiba di stasiun Kediri.. (Topik emang nunggu di Kediri)..
Langsung kami beli tiket KA Kahuripan Rp 36.000, kami dapat tempat duduk di gerbong 2.. Jadwal KA jam 15.00, karena masih lama aku n Nanda memutuskan untuk liat-liat Kediri sekalian mencari ATM..
Setelah shalat Dhuhur sekaligus menjamak Ashar, kamipun berangkat naik kereta Kahuripan menuju Bandung...
Kereta memang penuh, tapi beruntung kami dapat kursi, kereta semakin penuh ketika sampai di Jogjakarta... Melelahkan..
Kami pun tidur untuk mengumpulkan tenaga untuk hari esok...
Kami terbangunan di kereta sekitar pukul 03.00 WIB setelah mendengar teriakan para penjual makanan dan minuman dengan logat yang kurang familier di telingan kami, ternyata kereta yang kami naiki telah sampai di Jawa Barat tepatnya Tasikmalaya.. Di stasiun Tasikmalaya banyak penumpang yang turun sehingga kereta menjadi longgar. Kami sempat tergelitik dengan para penjajah makanan yang memanggil kami Aa' (panggilan kakak laki-laki untuk orang Sunda). "Wah... kita benar-benar berada di bumi Pasundan." Ungkapku.
Keretapun meneruskan perjalannya, dengan mata yang berat karena masih mengantuk, punggung dan pinggang pegal-pegal (efek bangku ekonomi.. hehehe) kami ditakjubkan dengan pemandangan yang spektakuler.. yaa, ternyata kereta sedang mengintari gunung dan perbukitan di daerah Sumedang-Garut. Rasanya kepenatan kami semalan terbayar dengan pemandangan yang indah ini... It's awesome...
Akhirnya.. pukul 10.30 kami sampai di Bandung, kami memilih turun di stasiun Cimahi karena ada family yang bersedia menjemput kami di stasiun..
Alhamdulillah kami sampai dengan selamat dan sehat wal afiat..
Pengeluaran hari ke-1:
- angkot Rp 2.500
- Tiket KA Panataran Rp 5.500
- Karcis toilet Rp 1.000
- Makan siang di Kediri Rp 4.500
- Beli air mineral Rp 5.200
- Tiket KA Kahuripan Rp 36.000
Total Rp 54.700














Kamis, 28 Januari 2010
Tidak banyak agenda kami hari ini, sebenarnya kami ingin langsung cari hotel di pusat Kota Bandung, tetapi saudaraku menyarankan untuk bermalam dulu di Cimahi. Seharian ini kami benar-benar full istirahat (Tak ada kerjaan selain makan, minum, dan tidur, hehe..). Hari ini merupakan kesempatan kami untuk mengumpulkan tenaga dan menghemat pengeluaran..
Pengeluaran hari ke-2:
- Beli sikat gigi Rp 2.300

Jumat, 29 Januari 2010
hari inilah perjalan backpaker kami benar-benar dimulai..
Kami memang sudah mempersiapkan penginapan yang akan kami kunjungi dari browsing di internet, dari beratus-ratus hotel di Bandung mulai dari bintang 5 sampai melati 3, kamipun menjatuhkan pilihan ada hotel yang berada di jantung kota Bandung yakni Hotel Pelangi Indah di jalan Pasirkaliki.
Hotel ini memang sangat cocok untuk para backpaker, karena harga yang ditawarkan relatif murah untuk ukuran hotel di tengah kota, yakni Rp 95.000/nett untuk 3 orang dilengkapi dengan fasilitas kipas angin dan televisi.
Setelah cek in dan menaruh barang, kami tak ingin berlama-lama di hotel karena ingin meneruskan agenda backpaker kami.. Agenda pertama kami yakni ke kampus ITB, kami beruntung karena saudara bersedia mengantar kami ke ITB..
Kami langsung menuju perpustakaan pusat ITB untuk mencari bahan bacaan. Perpus istirahat sampai pukul 11.00 WIB, kamipun meninggalkan perpus dan segera menuju masjid Salman untuk menunaikan shalat Jumat berhubung hari itu hari Jumat.
Pukul 13.00 WIB setelah shalat jumat berakhir kami menuju ke keramaian orang-orang, ternyata setiap hari Jumat setelah shalat Jumat ada yang namanya Pasar Jumat di depan Masjid Salman ITB, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat-lihat barang yang dijajakan. Barang yang dijajakan sangat banyak dan bervariatif mulai dari baju, celana, aksesoris, vcd, dvd, sampai peralatan rumah tangga juga ada. Tentunya kita harus berani menawar untuk memperoleh harga yang murah.
Setelah melihat-lihat pasar kami bergegas mencari warung karena perut telah keroncongan. Pilihan kami jatuh pada depot-depot ala Warteg di sekitaer kampus ITB dengan asumsi bahwa warung sekitar kampus harganya pasti murah dan cocok dengan lidah kami.
Ternyata benar, makanan yang disediakan tidak jauh berbeda dengan masakan di Malang (tempat kami kuliah). Kami sudah kenyang dengan hanya mengeluarkan Rp 6.000 s/d 9.000 tergantung menu apa yang kita pilih.
Agenda kami berikutnya yakni daerah Cihampelas, daerah ini merupakan pusat pertokoan pakaian-pakaian khas anak muda Bandung (FO). Barang yang ditawarkna sangat bervariatif dengan harga yang terjangkau, daerah Cihampelas memang merupakan kawasan perbelanjaan yang cocok untuk anda yang berwisata ke Bandung ala backpaker. Sesampainya di Cihampelas, kamipun tidak melewatkan untuk mengunjungi salah satu mall terkemuka di Bandung yaitu Cihampelas Walk (Ciwalk). Memang pilihan yang kurang bijak apabila kita berbelanja di sini dengan uang yang pas-pasan, karena barang yang dijual kebanyakan barang-barang berkelas. Di Ciwalk kami hanya jalan-jalan melihat-lihat kesana kemari (Liat barang yang dijual n mojang-mojang Bandung yang cihuy... hehe). Setelah berjalan-jalan di Ciwalk kami tertarik untuk ke studio XXI, kami beruntung karena sedang ada premier film terbaru yakni Legion dengan tiket nonton Rp 50.000. Kamipun tak ingin melewatkan kesempatan untuk nonton di XXI Ciwalk (Karena di Malang baru ada Bbioskop 21).
Akhirnya kami memutuskan untuk nonton film Avatar 3D walaupun sebelumnya kami telah menonton film ini tapi bukan dengan format 3D. Kami harus membayar Rp 35.000 karena terhitung weekend hari Jumat (Weekday Rp 25.000, Weekend Sabtu Minggu Rp 50.000). Kebetulan waktu itu aku hanya nonton berdua dengan Nanda karena Topik nggak mau nonton dan memilih menghubungi temanya yang kuliah di ITB.
Jam 18.00 WIB film berakhir, dengan perasaan puas karena kami menonton film yang berkualitas, selepas dari studio XXI kami sempat mampir ke toko mainan untuk membeli mainan yang sedang tren di kalangan anak muda Bandung, yakni rubiks. Kami kembali berjalan-jalan ke Cihampelas untuk berbelanja baju dan membelikan oleh-oleh orang rumah.
Sekitar jam 20.00 WIB kami kembali ke hotel dengan kondisi gemiris dan hujan sedang, kami berjalan kaki dari Cihampelas menuju hotel di jalan Pasirkaliki dengan jarak sekitar 1,5 km.
Karena sudah malam dan perut lapar kami menutuskan untuk makan di warung pinggir jalan di jalan HOS Cokroaminoto sekalian menunggu hujan agak reda. Kami memesan 2 porsi nasi goreng sosis dengan harga Rp 8.000, plus gratis teh tawar (minuman wajib orang Sunda).
Kami berjalan ditengah gerimis malam menuju hotel dan sampai ke hotel pukul 22.30 WIB, kami langsung mandi dan istirahat.
Tips: untuk anda yang rawan flu, mending jangan nekad menerobos hujan, gak lucukan kalo jauh-jauh ke Bandung trus sakit flu karena habis kehujanan...
Pengeluaran hari ke-3:
- Hotel Rp 95.000 --> dibagi 3 orang (@ Rp 32.000)
- Tiket nonton Rp 35.000
- Air mineral Rp 2.000
- Makan siang Rp 7.000
- Makan malam Rp 8.000
Total Rp 84.000

































Sabtu, 30 Januari 2010
Hari Sabtu ini banyak agenda yang kami lakukan, Kami berangkat dari hotel pukul 08.00 WIB dengan berjalan kaki. Pertama kami memilih berwisata sejarah dan budaya ke daerah Braga. Daerah ini sangat cocok untuk kita yang hobi fotografi dan mengagumi warisan budaya berupa bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang masih kokoh berdiri dan terawat, walaupun ada satu-dua yang di demolisi.. (sayang banget). Sepanjang jalan kita disuguhkan deretan bangunan-bangunan pertokoan kolonial Belanda, banyak sekali komunitas fotografer yang hunting foto, bahkan ada yang melakukan sesi pre wedding.
Setelah dari jalan Braga kami meneruskan perjalanan ke jalan Asia-Afrika, jalan ini juga menyuguhkan warisan-warisan arsitektur kolonial yang sangat bersejarah, salah satunya Hotel tua yang sangat tersohor di Kota Bandung yakni Hotel Savoy Homann (Hotel Bidakara) dengan gaya arsitektur yang khas modern kolonial yakni art decco, hotel ini sangat bersejarah karena menjadi tempat penginapan para peserta Konferensi Asia Afrika. Kami juga tidak melewatkan untuk ke titik nol kilometer Kota Bandung yakni di seberang hotel Savoy Homann, kamipun tidak luput untuk berfoto-foto ria disana.
Kami tidak lupa untuk menuju jalan Merdeka yang jaraknya tidak jauh dari jalan Asia-Afrika, dijalan ini terdapat gedung tempat pertemuan konferensi Asia Afrika pada tahun 1959 yang menghasilkan deklarasi yang dikenal dengan Dasasila Bandung. Sungguh menyenangkan dapat berada dan mengambil foto di bangunan saksi bisu sejarah dunia yang berada di Kota Bandung ini.
Pecinan (China Town) Bandung menjadi destinasi wisata sejarah selanjutnya, jalan Banceuy merupakan koridor perdagangan lama yang dahulu merupakan pusat aktivitas perdagangan etnis Tionghoa. Sayang sekali kesan pertokoan Pecinan kurang nampak seiring dengan perkembangan jaman (nasib yang selalu dialami oleh seluruh Pecinan di Indonesia). Padahal, daerah Pecinan merupakan potensi ekonomi dan pariwista untuk setiap kota.
Puas berwisata budaya dan sejarah, kami melanjutkan perjalan ke daerah Alun-alun Kota Bandung, kami mencari sarapan disana, tetapi sarapan di daerah alun-alun tidak kami rekomendasikan karena menu yang standart dan harganya yang tidak pasti (penjual cenderung mengasi harga mahal ke pendatang). Kami menuju ke Masjid Agung Bandung untuk berwisata religi sekaligus menaiki menara 19 lantai untuk menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Ternyata ini merupakan pilihan yang tepat sebagai salah satu tujuan wisata ala backpaker, dengan tiket masuk hanya sebesar Rp 2.000 per orang untuk sekali masuk. Kota Bandung dari ketinggian sangat menarik, meskipun tergolong kota yang padat tetapi masih terdapat RTH dan penghijauan (semoga terus bertahan dan semakin meningkat).
Berada di Kota Bandung belum lengkap apabila kita tidak berwisata Belanja. Walaupun ala backpaker, jangan khawatir untuk berbelanja di kota Bandung. Salah satu destinasi wisata belanja yang sangat terjangkau adalah Pasar Baru Bandung. Untuk menuju Pasar Baru kami berjalan kaki melewati jalan ABC, jalan ini merupakan pusat pertokoan, akan tetapi yang menjadi daya tarik bukan pertokoannya tetapi para PKL di depan pertokoan yang menjual barang-barang second hand. Antara lain elektronik, hp, sampai kamera SLR. Tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi apabila kita tertarik dengan barang-barang second.
Akhirnya kami sampai di Pasar Baru, bangunan pasar 5 lantai ini menjual berbagai macam pakaian mulai dari anak-anak sampai orang dewasa yang tersebar di ratusan lapak. Asalkan pintar menawar, kita bisa mendapatkan baju, celana, jaket ala distro dengan harga yang super murah. Contohnya Nanda, dengan segala usaha menawar akhirnya berhasil mendapatkan sebuah jamper untuk cowok dan jamper semi cardigan rajutan untuk cewek dengan harga Rp 105.000 untuk dua barang tersebut, padahal harga yang ditawarkan untuk Rp 90.000 untuk jamper cowok, dan Rp 60.000 untuk jamper cewek. Aku dan Topikl juga tak mau kalah, akhirnya kita berhasil mendapatkan jaket jamper dengan harga Rp 62.500 dari harga asli Rp 95.000, tergolong murah karena apabila dibandingkan dengan harga di Malang untuk barang serupa harganya bisa mencapai Rp 100.000 lebih.
Hari semakin sore, waktunya kami kembali ke Hotel, dalam perjalanan pulang ke hotel kami melewati lagi jalan Braga, di situ terdapat toko makanan yang telah ada sejak tahun 1929 yang menjual kue-kue dengan resep asli peninggalan kolonial Belanda. Kami akhirnya membeli jajanan resep lawas yakni bookepoot, semacam kue kering yang terbuat dari tepung, kacang, selai strawberry dan dicelup cokelat dengan harga Rp 16.000/ons, sungguh nikmat dan patut dicoba.
Karena belum terlalu sore (jam 15.00 WIB) kami memutuskan untuk mampir ke Braga City Walk (BCW) untuk sekedar melihat-lihat dan shalat Ashar.
Puas dan lelah berwisata sejarah, budaya, religi, dan belanja kami kembali ke Hotel dengan berjalan kaki lagi dan sampai ke hotel jam 16.00 WIB kemudian cari makan di sekitar hotel dan pilihan kami jatuh warung soto Lamongan di dekat hotel dengan harga Rp 8.000/porsi, kami sedikit terkejut karena penjual ternyata fasih berbahasa Jawa.
Disini kami bertiga berpisah, karena Topik memilih untuk nginap di kosan teman SMAnya yang kuliah di Bandung, terpaksa sekarang aku hanya berdua dengan Nanda, dan terpaksa lagi biaya hotel hanya ditanggung berdua, padahal hari itu kita dikenakan biaya tambahan weekend yakni Rp 15.000, tetapi hal ini tidak mengurangi semangat kami..
Setelah istirahat, mandi, dan shalat Magrib, kami berdua tak ingin melewatkan malam minggu di Kota Kembang ini. Dinginnya udara malam tidak menghalangi niat kami untuk berjalan-jalan mengarungi malam di kota Paris Van Java ini. Tujuan kami sebenarnya ke daerah Dago, dan kami tetap memilih berjalan kaki dari hotel selain karena lebih irit juga ternyata sangat menyenangkan berjalan kaki, kita dapat merasakan sense of place dari sebuah kota ketimbang kita naik kendaraam bermotor. Sebelum ke Dago, kami sempat mengunjungi Istana Plaza dan sekali lagi hanya untuk sekedar cuci mata dan tidak berbelanja, Tidak lama kami di Istana Plaza, kami menuju ke daerah Dago. Pada malam hari terutama pada malam Minggu daerah ini sangat ramai, anak-anak muda Bandung menghabiskan malam disini, mulai dari anak-anak SMA hingga mahasiswa yang mengamen di lampu merah hingga komunitas/ club sepeda motor.
Karena tidak ada tempat yang akan kami kunjungi, kami melanjutkan perjalanan kembali, setelah sempat bingung mau kemana, akhirnya kami kembali ke Cihampelas karena ada barang yang kelupaan yang ingin dibeli. Kami kembali berjalan kaki dan kali ini kami lewat daerah ITB menuju Cihampelas, malam hari daerah ITB tergolong mati karena tidak ada kegiatan. Sesampai di Cihampelas, perut kami terasa lapar sehingga kami memutuskan untuk makan malam, karena sudah berada Cihampelas, tidak afdol jika kita tidak mencicipin makanan di Ciwalk, oleh karena itu kami menuju ke salah satu restoran Jepang yakni Gokkana Teppan yang berada di Ciwalk. Kami memilih makanan paket beff teriyaki dengan complete fried dan vegetable salad dengan harga Rp 21.000 dan minuman seharga Rp 5.000 s/d 15.000.
Sekitar jam 23.30 kami tiba kembali di hotel dan segera beristirahat.
Pengeluaran hari ke-4:
- Hotel Rp 110.000 --> dibagi 2 orang (@ Rp 55.000)
- Makan pagi Rp 8.000
- Tiket menara Rp 2.000
- Belanja pakaian Rp 62.500
- Air mineral Rp 4.000
- Makan siang Rp 8.000
- Beli bookepoot Rp 16.000
- Makan di Resto Jepang Rp 26.000
Total Rp 181.500


























































Minggu, 31 Januari 2010
Minggu pagi tak ada agenda khusus, karena hari ini kami berencana kembali ke Malang naik kereta Kahuripan yang berangkat jam 19.30 WIB. Rencananya saudara yang di Cimahi akan menjemput kami di hotel siang harinya. Untuk mengisi waktu kami berdua memilih berjalan-jalan di Mall Paris Van Java (PVJ), karena waktu yang sempit, kami memutuskan untuk naik angkutan kota dengan tarif Rp 2.000 s/d Rp 3.000, setibanya di PVJ kami tertarik untuk membeli pernak-pernik ala Jepang yang dijual di PVJ, mulai dari pin, gantungan kunci, pensil, dll dengan harga Rp 5.000 s/d Rp 10.000, di tempat inilah kami memutuskan untuk membeli buah tangan untuk teman-teman di Malang..
Jam 13.00 WIB adalah waktu kami untuk cek out hotel, aku n Nanda janjian dengan Topik di hotel jam 12.oo WIB. Sekitar jam 14.00 WIB saudara yang dari Cimahi menjemput kami ke hotel dan balik ke Cimahi karena kami akan naik kereta dari Padalarang yang jaraknya dekat dengan Cimahi. Dalam perjalanan ke Cimahi kami mampir makan siang di rumah makan Ampera khas Sunda, menu yang ditawarkan khas Sunda yang jarang kami temui di Malang.
Kami tiba di rumah saudara di Cimahi pukul 17.00 WIB, setelah mandi dan makan malam kami menuju ke Padalarang, tapi kami kurang beruntung, karena ternyata kami kehabisan tiket duduk, hanya tinggal tiket berdiri dan restorasi (Tiket restorasi yakni dengan menambah sekitar Rp 20.000 kita dapat duduk di ruang restorasi (ruang makan), tetapi ruang ini kurang kami rekomendasikan untuk perjalanan jarak jauh karena kita harus duduk di kursi plastik yang disediakan).
Akhirnya kami kembali bermalam di Cimahi dan memutuskan pulang esok harinya dengan memesan tiket terlebih dahulu seharga Rp 38.000 plus Rp 2.000.
Pengeluaran hari ke-5:
- Beli oleh-oleh di PVJ Rp 46.000
- Ongkos Angkot Rp 5.000
- Tiket KA Kahuripan Rp 40.000
Total Rp 91.000

Senin, 01 Februari 2010
Nanti malam kami akan pulang dengan kereta ekonomi Kahuripan yang berangkat pukul 19.40 WIB dari stasiun Cimahi, pagi hingga malam kami hanya berada di rumah untuk istirahat karena akan melakukan perjalanan jauh..
Berangkat tepat pukul 19.40 WIB dari Cimahi kereta sangat penuh, apalagi waktu di stasiun Kiaracondong Bandung, arus dari Bandung-Kediri memang selalu lebih ramai dibandingkan sebaliknya. Kami menaiki gerbong 2 yang sangat ramai, dan baru sepi di Madiun..
Selasa 02 Februari 2010 Pukul 11.30 WIB akhirnya kereta sampai di stasiun Kediri, dan kami berpindah kereta Panataran Jurusan Kediri-Surabaya yang lewat Malang yang berangkat jam 11.45 WIB. Pukul 16.00 akhirnya kami kembali menghirup udara kota Malang tercinta dengan ucapan Alhamdulillah...
Pengeluaran hari ke-6:
- Tiket KA Panataran Rp 5.500
- Ongkos angkot Rp 2.500
Total Rp 8.000

Demikianlah perjalan backpaker kami ke Bandung selama 4 hari, dengan hanya biaya Rp 298.000 (Tanpa biaya belanja, nonton film 3D, dan makan di resto Jepang) kita dapat menikmati keindahan dan eksotisme kota Bandung, walaupun kami menggunakan kereta kelas ekonomi, nginap di hotel melati, kemana-mana jalan kaki, dan makan seadanya tapi sangat menyenangkan dan tidak mengurangi kesan kami terhadap kota Bandung, sehingga kami dilain kesempatan ingin kembali melakukan perjalan backpaker ke Bandung maupun ke tempat lain yang lebih menyenagkan..
Total Pengeluaran:
- Hari ke-1 Rp 54.700
- Hari ke-2 Rp 2.300
- Hari ke-3 Rp 84.000
- Hari ke-4 Rp 181.500
- Hari ke-5 Rp 91.000
- Hari ke-6 Rp 8.000
Total keseluruhan Rp 421.500

Rabu, 25 November 2009

FORMAT LPJ EM PWK 2009

Teman-teman anggota KESMA yang saya cintai dan saya banggakan...
Masa kepengurusan kita akan segera berakhir, saya mohon dengan sangat teman-teman meyelesaikan tugas terakhir kepengurusan yakni buat LPJ proker masing-masing yang menjadi tanggung jawab,
format LPJ bisa di download di:
http://downloads.ziddu.com/downloadfiles/7508309/FormatLPJ.doc

LPJ ini harap dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, dan dikumpulkan paling lambat Minggu 29 November 2009 ke email : detitto_rizaldy@yahoo.co.id
____Makasi____

Jumat, 02 Oktober 2009

About "Ngalam"

Nama “Malang” berasal dari Candi Malang Kucecwara, sebuah candi yang terletak di kaki Gunung Buring, di timur kota Malang. Candi tersebut dibangun pada abad ke-15.

Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, Misalnya Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana untuk bernostalgia.

Pada tahun 1879, di kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.

Sabtu, 04 April 2009

Give All to Love

Give all to love;
Obey thy heart;
Friends, kindred, days,
Estate, good-fame,
Plans, credit, and the Muse,—
Nothing refuse.

'Tis a brave master;
Let it have scope:
Follow it utterly,
Hope beyond hope:
High and more high
It dives into noon,
With wing unspent,
Untold intent;
But it is a God,
Knows its own path
And the outlets of the sky.

It was never for the mean;
It requireth courage stout.
Souls above doubt,
Valor unbending,
It will reward,—
They shall return
More than they were,
And ever ascending.

Leave all for love;
Yet, hear me, yet,
One word more thy heart behoved,
One pulse more of firm endeavor,—
Keep thee to-day,
To-morrow, forever,
Free as an Arab
Of thy beloved.

Cling with life to the maid;
But when the surprise,
First vague shadow of surmise
Flits across her bosom young,
Of a joy apart from thee,
Free be she, fancy-free;
Nor thou detain her vesture's hem,
Nor the palest rose she flung
From her summer diadem.

Though thou loved her as thyself,
As a self of purer clay,
Though her parting dims the day,
Stealing grace from all alive;
Heartily know,
When half-gods go,
The gods survive.

http://www.poetry.com/LovePoems/lovepoem

Minggu, 08 Maret 2009

Utopianisme Perancangan Kota

Bayangan kehidupan masa depan "sorgawi" yang merupakan dambaan khayal manusia, dalam sejarah telah banyak digambarkan baik melalui karya-karya komik fiksi ala "Flash Gordon", buku-buku karangan Jules Verne, idea-idea dari Thomas More dan karya-karya lain, kesemuanya merupakan sumbangan perbendaharaan budaya "khayal" manusia. Setelah revolusi industri predikat "kaum penghayal" hancur dan mulailah lahir kaum "utopia urban". Utopia telah menjadi "gaya tersendiri" dan membuktikan diri sebagai alat yang "ampuh" untuk menyerang tata sosial politik pada masa itu. Pada abad 19, Samuel Butler mengemukakan bahwa tugas utopia adalah menciptakan peluang bagi berbagai "hal yang mungkin" guna melawan sikap "pasif' dan "nrima" keadaan aktual masa kini. Utopia merupakan pemikiran simbolis yang mengatasi kelembaman kodrati manusia dan memberi manusia kemampuan baru, yakni kemampuan untuk terus menerus membangun "dunianya"

Utopia dapat diarikan sebagai ide tentang masyarakat idaman/ khayalan/ impian ("a Place or State of Ideal Perfection"), beberapa tokoh utopian urban antara lain; Andre Blowers (The Future of Cities), Sir Thomas More (1478-1535) dengan bukunya "utopia", Claude Nicholas Ledoux (173~1806) dengan karyanya Kota Industri Garam di Chaux. Charles Fourier (1772-1837) dengan "Phalanstere" nya, Tony Garnier (1869) arsitek Prancis yang memenangkan hadiah arsitektur prestisius, Ebeneser Howard (1850- 1928) dengan Garden City, Francois Dallegret's (1963) dengan space city/ Astronef 732, Paulo Solery (1969) dengan bukunya Acrologi The City in the Image of Man (yang memuat lebih dari 30 desain utopia urban termasuk di dalamnya "Hexahedron") dan lain~lain termasuk Frank Lloyd Wright dan Le Corbusier yang memperkenalkan utopian urban abad 20 dengan mempergunakan kemajuan teknologi dan ledakan urbanisasi sebagai generator ponsialnya.

Manusia mempunyai kecenderungan tertarik pada upaya pengelolaan lingkungan, selalu berupaya merubah, mencipta dan membangun lingkungan sesuai dengan kebutuhan hidup masakini dan untuk masa yang akan datang. Proses pengelolaan lirigkungan ini berlangsung sepanjang zaman yang didorong oleh upaya memperbaiki keadaan kehidupan yang dihadapi sekarang guna mencapai kehidupan yang lebih sejahtera di masa depan. Pemikiran ramalan kehidupan masyarakat masa depan oleh kaum "utopis" telah banyak membantu mempengaruhi perjuangan manusia dalam mencapai kehidupan masyarakat secara "totalitas". "Kaum utopis" sebagian besar adalah manusia-manusia "idealis-humanis" yang aktif mencari "respon" alternatif terhadap masalah-masalah sosial yang mereka hadapi, dengan meramalkan kehadiran suatu bentuk masyarakat impian yang "bebas masalah". Impian kaum utopis ini muncul pada saat subyektifitas obyektifitas kondisi sosial tidak memungkinkan terjadinya perubahan sosial yang berarti.


"Paham" utopial Utopianisme sebetulya ada dua "aliran"; "Social Utopia", mengungkapkan konsep utopia secra verbal yang berusaha merumuskan pemecahan masalah sosial masyarakat tanpa menyinggung masalah lingkungan hidup fisik dan tata ruang (arsitektur). Para utopis sosial percaya bahwa manusia akan bahagia melalui upaya perubahan struktur dan norma-norma kehidupan sosial. Salah satu tokoh utopian sosial adalah Sir Thomas More (1478-1535), dalami bukunya "Utopia" yang ditulis pada tahun 1516, ia melontarkan gagasan untuk mengatasi penderitaan masyarakat pada permulaan era 'Gilda', masyarakat dikhayalkan sebagai masyarakat yang bebas persaingan dan tanpa kelas, dimana desa-desa tersebar di pinggiran kota memperoleh pemerataan distribusi barang dan pemerataan kesempatan diantara anggota masyarakat.

"Physical Utopia", merupakan pendekatan fisik yang lebih menekankan rumusan utopianya pada pengolahan fisik tata ruang tanpa menyinggung kompleksitas kehidupan sosial, disini diungkapkan proyeksi kehidupan masa depan melalui upaya rancang bangun dan pengolahan tata ruang dalam (arstektur). Kaum utopis fisik berpendapat bahwasanya melalui perubahan dan pembangunan lingkungan fisik serta pengolahan tata ruang yang baik, efisien dan indah, manusia akan menjadi bahagia, hidup lebih baik, teratur, sehat dan sejahtera. Salah satu contoh bentuk utopia fisik misalnya "Walking City", kota super efisien dengan semua unit elemen kota bergerak melayani manusia (oleh Archigram Group, 1960).

Revolusi industri juga berpengaruh pada "utopianisme", para utopis sosial mengalami "kemandegan", sebaliknya para utopis fisik makin menjadi, dengan mengungkapkan konsep-konsep yang spekulatif yang memperkenalkan produk-produk utopis yang memanfaatkan kenujuan teknologi. Di sini dimulai pendekatan "teknoktratik" yang meletakkan kemampuan pikiran manusia dan teknologi dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial. Teknologi dianggap berkemampuan tak terbatas dalam melayani segala kebutuhan manusia, di sini terlihat bahwasanya "kota" identik dengan mesin yang rumit pralatannya yang herfimgsi melayani kebutuhan manusia.

Inovasi-inovasi sebagai hasil industri semakin memacu para utopian untuk dengan antusias memperjuangkan tercapainya masyarakat totalitas, yang menyebabkan pemikiran utopia berkembang menjadi pendekatan "jalan pintas" bagi pemecahan masalah-masalah sosial. Pada era ini masalah-masalah sosial, perkembangan budaya mernjadi "terabaikan" dengan tenggelam pada keangkuhan teknologi. Sementara itu utopis sosial yang berpaham "idealis-humanis" yang bereaksi lebih positif, yakni memperjuangkan cita-cita masyarakat adil-makmur melalui konsep "verbal" menjadi semakin langka dan tenggelam.

"Gema" kaum utopis dengan karya-karyanya terutama konsep-konsep utopis urban telah banyak memberikan sumbangan yang positif bagi perkembangan lingkungan binaan (Arsitektur). Gema dari konsep utopis telah "merambah" ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang dibawa Belanda pada zaman kolonial (Thomas Karsten). Pada periode 1900-1942 Thomas Karsten menerapkan konsep "Garden City" pada beberapa kota seperti Bandung, Malang, Bogor dan sebagainya.

Pola pikir utopia sebenarnya tidak boleh kita remehkan, bahkan harus kita perhatikan sebagai suatu hasil pemikiran yang murni dan muncul dari suatu keinginan yang benar-benar mendambakan suatu keadan yang ideal. Banyak hasil-hasil pemikiran kaum utopian pada saat ini menjadi kenyataan seperti keinginan hidup di angkasa luar yang "bebas" kehidupan. Dari kenyataan ini jelas bahwa dari pernikiran kaum utopian ini menjadi tantangan bagi para ilmuwan untuk merealisasikan angan-angan yang "mungkin" bisa diwujudkan.

Dalam dunia Arsitektur mengkhayalkan sesuatu yang akan dibuat merupakan suatu hal yang harus dilakukan, mengingat dimensi spatial arsitektur menuntut pemahaman keruangan yang akan berhasil melalui "rekayasa" penghayalan idea (pencetusan idea). Hal ii diperlukan mengingat dalam perancangan lingkuugan binaan (arsitektur) dituntut sesuatu yang berbeda (baca: bukan duplikasi) dari hasil rancangan yang telah ada sebelumnya.

Semoga ulasan ini membawa manfaat bagi kebiasaan penghayalan idea dalam mendisain lingkuugan binaan, yang perlu diperhatikan budaya menghayal ini harus konstruktif dalam arti positif sehingga kita tidak terbawa arus untuk dikuasai oleh alam khayal kita (agar tidak kebablasen?)